METODE PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF UNTUK PENGEMBANGAN DISIPLIN AKUNTANSI DARI SUDUT PANDANG MAKRIFAT

Posted by Unknown on Kamis, Mei 14, 2015 with No comments


    Artikel ini bertujuan untuk mengembangkan makna lain dari pemahaman umum yang selama ini hanya memahami penelitian kualitatif sebagai penelitian non-positivis. Tujuan berikutnya adalah memberikan pemahaman tentang kesatuan metode penelitian sebagai refleksi dari kesatuan diri (self). Artikel ini pada akhirnya memberikan informasi bahwa metode penelitian positivis memasuki wilayah kuantitatif dan kualitatif. Sementara penelitian dengan paradigma interpretivis, kritis, posmodernis, dan spiritualis hanya ada di wilayah kualitatif.

    Pada aspek yang lain, artikel ini memaparkan bahwa tidak ada dikhotomi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Keduanya berada dalam satu garis kontinum menuju pada arah kesadaran diri tentang adanya kesatuan realitas, kesatuan diri dengan diri yang lain, kesatuan diri dengan realitas, dan kesatuan diri dengan Tuhan. Metode dan wilayah penelitian merupakan perwujudan dari lapisan kesadaran peneliti akuntansi yang meliputi kesadaran luar (outer consciousness), kesadaran lebih dalam (inner consciousness), dan kesadaran ilahi (divine consciousness). Secara ideal, peneliti akuntansi dapat mencapai lapisan kesadaran ilahi. Pada tingkat kesadaran ini, diri peneliti telah tiada, dan sebaliknya yang ada hanyalah Allah. Inilah yang disebut dengan puncak kesadaran peneliti dan penelitian akuntansi, yaitu makrifat penelitian akuntansi.

    Secara umum, banyak orang memahami bahwa penelitian terbagi dalam dua kategori, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Darlington and Scott 2002; Neuman 2007; Creswell 2009). Penelitian kuantitatif identik dengan penelitian yang menggunakan data kuantitatif dan alat analisispun juga menggunakan alat kuantitatif, yaitu statistik. Sementara penelitian kualitatif dipahami sebagai penelitian yang menggunakan data kualitatif dan alat analisis kualitatif, yaitu berupa teori-teori yang difungsikan sebagai alat analisis.
 
  Penelitian kuantitatif lebih dominan dan lebih sering digunakan oleh peneliti ilmu-ilmu sosial bila dibanding penelitian kualitatif. Meskipun pada awalnya penelitian kuantitatif ini banyak digunakan dalam ranah ilmu-ilmu eksakta (non-sosial), namun pada perkembangan berikutnya metode kuantitatif merambah masuk ke dalam ranah ilmu-ilmu sosial. Mengapa metode ini begitu mudah masuk dan berkembang di ranah ilmu sosial ? Jawabnya, karena metode kuantitatif secara nyata memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan ilmu eksakta dan teknologi. Perubahan dan perkembangan besar di ranah ini membuat para peneliti ilmu sosial merasa kagum, sehingga akhirnya mereka menggunakan metode kuantitatif ini di ranah ilmu sosial.

Makrifat Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

    Pemahaman tentang diri (self) adalah sangat penting. Ketika diri memahami dirinya sebagai satu kesatuan utuh dari alam dan Tuhan, maka realitas sosial (yang merupakan refleksi dari pikiran diri) juga tidak terpisah dari dirinya, mulai dari lapisan realitas sosial yang konkrit (terluar) hingga pada lapisan yang lembut dan abstrak (terdalam). Realitas sosial adalah bagian dirinya dan dirinya juga adalah realitas sosial. Dalam konteks ini, dualisme dan pikiran dikhotomi sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah kesatuan. Dikhotomi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif sudah tidak ada. Yang ada hanyalah sebuah kontinum metode untuk melakukan penelitian, yaitu garis kontinum yang bergerak dari kuantitatif ke kualitatif, atau sebaliknya; garis kontinum yang bergerak dari arah positivis hingga spiritualis, atau arah sebaliknya; garis kontinum yang bergerak dari orientasi verifikasi teori hingga pada orientasi membangun teori baru, atau arah sebaliknya; demikian seterusnya.

    Melakukan penelitian sebetulnya bukan sekedar menghasilkan sebuah teori atau sebuah konsep, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana diri menjadi lebih “berisi.” “Berisi” di sini bisa diartikan bahwa peneliti semakin memiliki pengalaman, semakin luas pemikirannya, semakin arif, dan semakin memahami hakikat ilmu pengetahuan dan hakikat dirinya. Ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah hukum-hukum Tuhan yang disebarkan di alam semesta ini, termasuk hukum-hukum yang tersebar dalam kehidupan manusia. Di manapun dalam kehidupan manusia pasti ada hukum-hukum ini. Tanpa adanya hukum ini, maka kehidupan tidak akan pernah berjalan, alias berhenti dan chaos.

    Tidak satu ruangpun di alam semesta ini yang steril dari hukum dan kehadiran Tuhan. Walau sekalipun di kotoran hewan, di sana ada hukum dan kehadiran Tuhan. Demikian juga akan kita temukan di kehidupan sosial manusia. Di kehidupan sekelompok manusia golongan atas, golongan menengah, dan golongan bawah, semuanya terdapat hukum dan kehadiran Tuhan. Di perusahaan besar, menengah, dan kecil juga akan ditemui hal yang sama. Bahkan di luar perusahaan, seperti organisasi nir-laba dan organisasi informal lainnya, di sana juga ada hukum dan kehadiran Tuhan. Mengapa demikian? Karena Tuhan meliputi segala sesuatu.

    Hukum-hukum yang tersebar di alam semesta dan dalam kehidupan sosial manusia sebetulnya tidak lain adalah ilmunya Tuhan. Dengan pemahaman seperti ini, maka sebetulnya tidak perlu ada gengsi bahwa melakukan penelitian di area tertentu menjadi lebih dihargai dibanding dengan area lainnya. Dalam konteks akuntansi, terlihat ada suatu pemahaman bahwa hanya penelitian-penelitian di perusahaan saja yang dianggap sebagai penelitian akuntansi dan konsekuensinya hasil penelitian dianggap sebagai ilmu akuntansi (corporate accounting). Sementara, penelitian yang berada di luar wilayah perusahaan, misalnya rumahtangga, pegadang kaki lima, masjid, gereja, vihara, dan lain-lainnya dianggap bukan penelitian akuntansi dan bukan ilmu akuntansi. Sebetulnya jika kita memiliki pemahaman seperti di atas, maka tidak ada batasan apakah sebuah penelitian dilakukan di perusahaan atau bukan perusahaan.

    Keduanya merupakan ladang ilmu Tuhan yang terbuka untuk dipelajari dan diteliti. Karena kita sudah terbiasa dengan pikiran modern yang kapitalistik, maka biasanya segala sesuatu selalu berpedoman pada uang. Sehingga penelitian-penelitian yang tidak berkaitan dengan uang atau menghasilkan uang dianggapnya bukan penelitian akuntansi, atau paling tidak penelitian tersebut dianggap tidak berharga, tidak ilmiah, atau bahkan dianggap bukan ilmu.

    Pandangan yang sama misalnya kita lihat pada kedudukan seorang ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga kedudukannya berada lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang bekerja di perusahaan. Mengapa demikian? Karena ibu yang bekerja memiliki nilai ekonomis (yang dapat dilihat dari gajinya setiap bulan) dan tentunya lebih berharga dibandingkan dengan ibu rumah tangga yang tidak memiliki nilai ekonomis (karena tidak bergaji). Tentu saja kasus ini adalah benar bila dipandang dari kacamata perspektif modern-kapitalistik. Namun akan berbeda jika dilihat dari kacamata yang lain. Di ranah perusahaan atau bukan perusahaan, seorang peneliti dapat melakukan penelitian akuntansi. Keduanya sama-sama mulianya, karena pada dasarnya yang diteliti tersebut adalah hukum atau ilmu Tuhan.

    Dalam kacamata Tuhan, penelitian yang lebih berharga adalah jika penelitian tersebut berhasil membuat penelitinya semakin memahami ilmu, semakin memahami sebagai hamba Tuhan, dan semakin membuatnya dekat sama Tuhan. Dengan kata lain, penelitian yang berhasil dan berharga adalah jika penelitian tersebut membuat penelitinya semakin bertaqwa kepada Tuhan dan ilmu yang berhasil digalinya tersebut membuat orang lain yang menggunakannya juga semakin dekat dan bertaqwa kepada Tuhan.

    Bertaqwa kepada Tuhan memilki makna bahwa seseorang semakin tunduk pada Tuhan yang ada dalam dirinya; dan secara ideal tunduk secara total kepadaNya. Seseorang tidak tunduk pada nafsu, akal, dan hatinya, tetapi hanya tunduk pada Tuhan yang ada dalam dirinya. Sehingga dengan demikian, secara implisit sebetulnya terlihat bahwa proses penelitian yang dilakukannya bukan didorong oleh kekuatan akal (yang didukung oleh nafsu dan hati), tetapi karena dorongan Tuhan yang bersemayam dalam dirinya. Bila demikian adanya, maka tidak ada lagi dikhotomi antara penelitian akuntansi perusahaan (corporate) dan akuntansi non-perusahaan (non-corporate accounting).

    Tidak ada lagi dikhotomi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif; tidak ada lagi dualisme paradigma positivisme dengan nonpositivisme; tidak ada lagi oposisi biner antara orientasi verifikasi teori dengan membangun teori baru; dan tidak ada lagi perseteruan antara ilmu sekular dengan yang tidak sekular. Semuanya adalah jalan untuk bermakrifat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Bermakrifat kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui semakin menjadi bermakna jika peneliti akuntansi mampu melampaui egonya (yaitu, nafsu, akal, dan hati), dan untuk kemudian tunduk, patuh, serta berserah diri secara total pada kehendak Tuhan yang melekat dalam dirinya. Cara ini memberikan beberapa manfaat.


  1. Jati diri peneliti merasakan kehadiran Tuhan atau merasakan kebersatuan dengan Tuhan.
  2. Semakin sering penelitian tentang ilmu Tuhan, maka semakin membuat diri peneliti semakin tiada, karena yang dirasakan adalah semata-mata adanya Tuhan. 
  3. Ilmu yang berhasil diformulasikan peneliti akan membuat orang yang mempelajarinya atau orang yang mengembangkannya juga menjadi semakin dekat dan bertaqwa kepada Tuhan. 
  4. Realitas kehidupan berakuntansi semakin kondusif membuat para pengguna atau masyarakat untuk semakin bertaqwa kepada Tuhan.
    Peneliti akuntansi yang bertaqwa biasanya selalu kreatif dalam mengembangkan penelitiannya. Dia dapat saja secara kreatif menemukan epistemologi baru, misalnya “epistemologi kembali kepada Tuhan.” Epistemologi ini adalah epistemologi spiritual yang mengarah pada bagaimana ilmu Tuhan dapat digali dan dipahami dengan baik sehinggga dapat membawa peneliti dan pengguna ilmu tersebut menjadi semakin bertaqwa kepada Tuhan; juga membawa mereka untuk kembali kepada Tuhan dengan jiwa yang suci dan tenang. Inilah puncak pengabdian peneliti akuntansi kepada sesama manusia, kepada alam, dan kepada Tuhan.




 
Penutup

    Pada tingkat teknis, tidak sedikit peneliti akuntansi terjebak dalam dikhotomi metode penelitian kuantitatif dan kualitatif; atau terbelenggu dalam dualisme paradigma positivis dan nonpositivis; atau terperangkap dalam ikatan oposisi biner antara penelitian akuntansi (corporate accounting) dan non akuntansi (non-corporate accounting).

    Dualisme hanya dapat dialami jika seseorang menggunakan tingkat kesadaran terluarnya (outer consciousness). Pada tingkat kesadaran yang terluar ini memang sangat memungkinkan untuk menemukan dan mengalami perbedaan-perbedaan yang kemudian berujung pada konflik. Namun, akan sangat berbeda jika seseorang mulai masuk ke tingkat kesadaran yang lebih dalam (inner conciousness). Pada tingkat kesaradan yang lebih dalam ini, peneliti akuntansi memahami dan menyadari bahwa apa yang sedang ia teliti sebetulnya tidak lain adalah hukum-hukum Tuhan atau ilmu Tuhan.

    Jika masuk lebih dalam lagi, maka peneliti akuntansi memasuki area kesadaran ilahi (divine consciousness). Pada lapisan kesadaran ini, seorang peneliti akuntansi telah melampaui ego akademiknya, atau ego professionalnya, atau masuk ke dalam wilayah ketiadaan diri. Sehingga yang dirasakan hanyalah Tuhan satu-satunya. Tidak ada segala sesuatu (termasuk dirinya), yang ada hanyalah Tuhan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Di sinilah titik puncak makrifat penelitian akuntansi.
  
tujuan penelitian akuntansi dengan paradigma spiritualis adalah membangkitkan kesadaran ketuhanan (to awaken god-consciousness)

Dari berbagai Sumber




Categories: